Mengenal Tether (USDT) Kripto yang Kontroversial.

Mengenal Tether (USDT) Kripto yang Kontroversial

Mengenal Tether (USDT) Kripto yang Kontroversial

Investasi kripto semakin jamak dilaksanakan oleh warga Indonesia. Bersamaan semakin jumlahnya ‘kisah sukses’ beberapa investor kripto yang kantongi keuntungan yang fenomenal pada sebuah tahun akhir, ketertarikan orang pada asset digital turut naik.

Tapi sering beberapa investor pemula yang ingin coba keberuntungan dalam melakukan investasi kripto ketidaktahuan. Tipe dan jumlah kripto sendiri terdaftar sangat-banyak-sekali dan bermacam. Tubuh Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) sendiri melaunching ada 229 tipe kripto yang diterima untuk diperjualbelikan di Indonesia.

Catat ya, kripto di Indonesia cuman bisa dipakai sebagai fasilitas investasi saja tidak untuk alat ganti sah dalam transaksi bisnis perdagangan seperti uang. Di saat ini, uang Rupiah sebagai alat transaksi bisnis yang sah di Indonesia.

Dari beberapa ribu tipe kripto di dunia dan beberapa ratus tipe yang dianggap di Indonesia, mungkin kamu kerap dengar beberapa nama seperti Bitcoin, Dogecoin, Ethereum, Binance, atau XRP. Mereka mempunyai kapitalisasi pasar yang besar sekali. Bitcoin, misalkan, mempunyai pasar cap sampai US$1 triliun.

Artikel ini akan membahas salah satunya kripto yang masuk ke empat besar kripto dunia dalam soal kapitalisasi pasar per 19 Mei 2021. Ia ialah Tether atau kripto yang dikenali dengan code USDT.

Mengenal Tether (USDT) Kripto yang Kontroversial
Tether (USDT)
  1. Apa Itu Tether USDT ?

Dikutip dari situs tether.to, Tether dikeluarkan pada 2014. Tether sebagai basis berbasiskan blockchain yang dibuat untuk memberikan fasilitas pemakaian mata uang fiat di ranah digital.

Menurut situs itu, Tether usaha mendisrupsi mekanisme keuangan yang konservatif dengan pendekatan yang lebih kekinian pada uang. Tether mengeklaim sebagai basis berbasiskan blockchain pertama kali yang memberikan fasilitas pemakaian mata uang tradisionil secara digital. Tether mengeklaim sudah mendemokratisasi transaksi bisnis lintasi batasan dalam blockchain.

  1. Mengklaim Ditopang oleh Uang Fiat

Nilai asset kripto yang ini di-claim sudah “diikat” langsung dengan mata uang fiat seperti dolar Amerika Serikat (US$). Tujuannya, jumlah unit coin dipercaya sama banyaknya dengan uang US$ asli.

TRENDING  Fakta Bitcoin: Sejarah, Cara Kerja, dan Bahayanya

Tether disebutkan dapat diuangkan dan diganti sesuai syarat basis Tether. Nilai alterasi 1 Tether (USDT) di-claim sama dengan US$1. Bagi yang belum tahu kepanjangan USDT adalah US Dollar Tether.

Namun, interograsi oleh Office of Attorney General (OAG) di New York, Amerika Serikat mendapati jika Tether membuat pengakuan palsu mengenai Tether yang didukung oleh dolar AS. Menurut salah satunya beskal, claim itu sebuah dusta.

Dalam suatu tayangan jurnalis sah yang di-launching Februari 2021, interograsi OAG mendapati jika Tether tidak mempunyai akses perbankan dimana saja di dunia. Dalam kata lain, tidak ada cadangan yang menyokong Tether ini ibarat claim mereka jika 1 Tether sama dengan didukung oleh US$1.

Siaran jurnalis itu mengatakan jika Tether— yang kerap digolongkan sebagai stablecoin atau coin yang nilainya stabil— sebagai stablecoin tanpa kestabilan. Penemuan itu membuat Tether menjadi satu diantara kripto yang polemis.

  1. Apa Fungsi Tether?

Menurut situs tether.to, Tether memungkinkannya pemiliknya untuk simpan, mengirimi dan terima token digital yang “terlilit” dengan dolar AS, Euro dan yuan China secara global dan instant. Tether mengeklaim jika beberapa faksi di ekosistem mata uang digital sudah mengitegrasikan Tether di mekanisme mereka.

Menurut situs itu, Tether sudah memilih untuk stop layani customer individu dan perusahaan Amerika Serikat. Sampai 1 Januari 2018, tidak ada service penerbitan atau pencairan untuk beberapa customer di Amerika Serikat itu.

  1. Diakui Bappebti

Tether masuk ke daftar 229 kripto yang dianggap oleh Tubuh Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti). Daftar kripto yang dianggap Bappebti ini dituangkan dalam Ketentuan Bappebti nomor 7 mengenai Penentuan Daftar Asset Kripto yang Bisa Diperjualbelikan di Pasar Fisik Asset Kripto. Ketentuan ini berlaku semenjak 17 Desember 2020.

TRENDING  Mengenal Potensi Solana Sebagai Opsi Lain Investasi Kripto

Demikian pembahasan mengenai Tether (USDT) sebagai Kripto yang Kontroversial, semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.